My Bio

Saat ini Luki berkarya sebagai Founder & fasilitator the Soul of Speaking dan Komunitas Happy Ibunda. Kedua institusi ini dilatarbelakangi oleh kepeduliannya yang sangat besar terhadap wanita dan anak-anak.

Semua interaksi dalam kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi maupun profesional, pasti membutuhkan komunikasi.

Kebanyakan dari kita, lebih terbiasa bahkan lebih piawai untuk mengekspresikan emosi dan perasaan negatif. Bahkan kadangkala sampai kesulitan mengekspresikan emosi dan perasaan positif. Emosi dan perasaan negatif merupakan salah satu dari aspek komunikasi non verbal manusia yang potensial menjadi penyebab kegagalan pencapaian tujuan komunikasi (seperti : menyadarkan, menggugah, menggerakkan). Disamping itu, seseorang atau organisasi acapkali tak menyadari bahwa tujuan komunikasinya masih berorientasi kepentingan egosentris semata. Padahal tujuan komunikasi akan makin cepat tercapai pada saat mementingkan kepentingan bersama. Inilah perlunya menggunakan Soul dalam berkomunikasi. Soul akan muncul disaat pikiran dan perasaan sudah selaras. Berbagai permasalahan manusia baik pribadi maupun kelompok/organisasi disebabkan oleh komunikasi yang tidak selaras. Inilah yang mendorong saya dan suami saya Rani Badri untuk membangun institusi pendidikan the Soul of Speaking.

Anak-anak adalah jiwa-jiwa yang mendapatkan tugas dari Tuhan untuk melanjutkan kehidupan manusia di generasi selanjutnya.

Sudah selayaknya bila kita sebagai orang tua dan orang dewasa untuk mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya. Namun yang terjadi seringkali sadar atau tanpa sadar, cara kita mempersiapkan anak-anak bukanlah dengan cara yang membuat mereka nyaman dan bahagia menjalani hidup. Bila mereka tak nyaman dan tak bahagia menjalani hidup, mereka menjadi sulit untuk menemukan jati diri mereka dan sulit untuk menyadari untuk tugas apakah mereka dilahirkan di dunia ini. Akhirnya membuat mereka menjalani hidup dengan seadanya dan tidak “passionate” dalam bertindak maupun berkarya. Inilah yang mendorong saya bersama beberapa sahabat untuk membangun Komunitas Happy Ibunda, sebuah komunitas edukasi yang berfokus pada ibu sebagai sentral kehidupan dalam rumah. Rumah adalah sekolah kasih sayang. Dengan adanya rumah yang beresensikan kasih sayang yang seutuhnya, maka kita sebagai orang tua dan orang dewasa telah berkontribusi besar dalam rencana Tuhan bagi keberlanjutan kehidupan di dunia ini.

Luki memiliki latar belakang pendidikan S1 Psikologi (Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), S2 Psikologi Industri & Organisasi (Universitas Indonesia Jakarta), dan Family Intervention Course Program di University of California Berkeley, US.

“Memiliki title “psikolog” di Indonesia memiliki berbagai tantangan. Pertama adalah komentar orang yang merasa tak nyaman bergaul dengan psikolog karena takut “dibaca2 dan ditebak2”.

Kedua, image seorang psikolog yang “harus” memiliki perjalanan hidup yang sempurna. Buat saya, awalnya jujur lebih banyak membuat saya merasa tak nyaman. Namun setelah saya mengalami beberapa penyadaran dalam perjalanan hidup saya, ternyata justru mendorong saya untuk memberikan ilmu dan pengalaman hidup pribadi dan profesional ini, sehingga orang lain mampu juga menjadi psikolog untuk dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Jadi tak ada lagi orang takut dibaca2 atau ditebak2 lagi, dan semakin banyak orang yang mengaplikasikan ilmu untuk semakin mengenal dirinya sendiri, mampu menjadi mentor di lingkungan sekitarnya (keluarga, masyarakat & profesional) serta memiliki kualitas menjadi inspirator untuk generasi selanjutnya.

Luki adalah ibu dari 2 (dua) anak (Souli dan Riga) dan istri dari suami yang selalu happy.

“Menjadi ibu merupakan pengalaman yang luar biasa. Dipercaya oleh Tuhan untuk membesarkan “masterpiece” kehidupan, bukanlah hal mudah. Untuk itulah setiap ada masalah dalam pengasuhan dan membesarkan anak, selalu saya serahkan kembali solusinya kepada Tuhan.”

Saya yakin, Tuhan yang melalui saya hingga anak-anak saya akan menjadi besar dan dewasa nanti, Tuhan pastilah membekali saya seutuhnya untuk tugas ini. Cita-cita saya adalah mampu membimbing anak-anak bahagia dan sukses sesuai pilihan hidupnya. Dan saya pasti lebih merasa bahagia.

Menjadi istri buat saya adalah perjalanan untuk semakin dalam memahami diri saya. Ternyata dengan saya makin memahami diri saya, saya menjadi makin memahami pasangan. Dengan selalu saling belajar memahami pasangan, ternyata membuat aspek hidup semakin diperkaya secara fisik, mental, emosional dan spiritual.”

Luki tinggal di Jakarta, Indonesia.